Home » » Ini Teknik Foto Perkawinan

Ini Teknik Foto Perkawinan

Written By Unknown on Tuesday, 14 January 2014 | 22:57

Melakukan potret pernikahan memang tidak semudah yang dibayangkan, bahkan ada sebagian yang berpendapat juga bisa menghasil banyak uang. namun dibalik itu semua, David Pullum mengatakan, "People look at wedding photography as if it’s a very-glamorous job – it really isn’t…” Sebuah asumsi yang benar-benar salah, atau salah-salah benar. Tapi kalimat di atas belum selesai “…but if you are passionate about taking photographs, I think you can do well” (David Pullum).

pada pembahasan ini, kita mengambil contoh kasus dari commercial wedding project pernikahan Claudia dan Stefan (CS) sebagai media untuk membagi bagaimana memilih alur kerja yang tepat agar dapat menjadi fotografer pernikahan (wedding photographer) yang sukses.

Values and Style

Mengabadikan setiap moment yang tidak mungkin diulang, yang setiap detiknya ada sejuta kemungkinan yang akan muncul, emosi yang tidak terpikirkan, luapan rasa, dapat menjadi pekerjaan yang paling menarik dan paling dipenuhi tekanan dalam industri fotografi pernikahan.

Ada banyak cara, triks, dan metode untuk mengabadikan itu semua, tiap detik tiap moment dan tiap kejadian. Dari banyak cara, saya memilih salah satu style untuk wedding project kali ini yaitu documentary style dengan pendekatan personal dan emosional. Caranya adalah saya mencoba agar dekat dan lebih dekat lagi dengan pasangan pengantin, mencoba untuk mendapatkan perasaan mereka dan pada akhirnya saya yakin dapat membangkitkan perasaan dan emosi melalui foto-foto saya. Style itu yang saya “jual” kepada mereka yaitu menggabungkan antara documentary-street style dengan beauty fashion-look style.

Dari situ dapat ditarik satu garis lurus dan golden point bahwa fotografer pernikahan juga harus punya “sesuatu” yang bisa ditawarkan yaitu values and style. Coba menjadi unik, memiliki pandangan dari apa yang ingin anda kerjakan dan anda dapat menawarkan value and sty;e tersebut dalam satu layanan penuh.

Tips 1: Menjual nilai anda dan temukan kebutuhan mereka

Buat appointment dengan calon pasangan untuk mengenal lebih dekat dan tawarkan “values and style” mu. Persiapkan proposal kecil (bisa berupa 1 set foto atau media presentasi) kira-kira apa yang anda konsepkan dan detail-detail apa yang akan anda ambil. Disini kesempatan untuk menjual “value and style” mu.
Dengarkan apa kebutuhan mereka dan cocokkan dengan konsep dan style mu.
Untuk kasus CS ini, ternyata mereka sangat senang foto-foto hitam putih, sepia, soft dan full of emotion.

Tips 2: Persiapkan semuanya

Segala sesuatu dapat terjadi di Big Day. Ingatlah bahwa kejadian di big Day tidak dapat diulang.

Buat list kira-kira apa saja yang dibutuhkan, lokasi pemotretan dan moments yang ingin diabadikan dan hal-hal penting yang tidak ingin terlewatkan.
Buat jadwal yang dicocokkan dengan jadwal sang mempelai. Untuk kasus saya, pemotretan direncanakan sejak saat di salon, persiapan dan dandan (baik mempelai wanita maupun pria), hingga resepsi setelah acara pernikahannya.

Dengan perencanaan yang matang pula, maka pembagian tugas bisa direncanakan dan kemungkinan masalah di Big Day bisa diantisipasi. Contoh saya membagi tugas dengan asisten. Saya meliput persiapan mempelai wanita dan asisten meliput mempelai pria hingga berangkat ke gereja.
Perencanaan yang tepat bisa membuat jam demi jam bisa kita perhitungkan. Bayangkan jika kita terlambat di Big Day saat di tempat resepsi dan mempelai justru duluan datang.

Sumber: Fototara
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PIKIRANKITA.COM | MERAWAT ACEH - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Shared by Vice Blogger | Proudly powered by Blogger