Setelah melonjak signifikan 3,19% pada perdagangan sebelumnya, indeks harga saham gabungan diprediksi bakal melanjutkan penguatannya terkait January effect atau penguatan indeks musiman yang berlangsung pada awal tahun.
Pada perdagangan Senin (13/1/2013), IHSG ditutup menguat 135,80 poin ke level 4.390,77 dari hari sebelumnya.
Penaikan indeks itu merupakan kenaikan yang tertinggi sejak 1 Juli 2013. Perdagangan tercatat dengan frekuensi 306.314 transaksi yang mencetak total volume di pasar reguler dan negosiasi 5,7 miliar saham senilai Rp8,1 triliun.
Satrio Utomo, Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, mengatakan January effect mungkin saja terjadi pada kali ini. Hal itu terlihat dari derasnya aliran dana asing yang masuk ke bursa pada perdagangan Senin lalu.
“Nampaknya pemodal asing mulai menganggap adanya tapering off tidak seseram yang dibayangkan selama ini,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (13/1/2013).
Memang, dari sisi aliran dana asing, pada perdagangan Senin lalu pemodal asing mencetak aksi beli bersih (nett buy) yang signifikan, sebanyak Rp1,93 triliun. Padahal, sepanjang pekan lalu, pemodal asing masih mencetak aksi jual bersih (nett sell) senilai Rp361,85 miliar.
“Saya sih melihat hal ini sebagai suatu awal yang bagus. Perkiraan saya, hingga akhir Januari, IHSG bisa berada di kisaran 4.500,” ungkapnya.
Sepanjang perdagangan Senin lalu, indeks bergerak pada kisaran 4.292,33 hingga 4.393,32. Adapun sebanyak 200 saham menguat, 90 saham melemah, 67 saham stagnan dan 124 saham tak ditransaksikan.
Lebih lanjut, tercatat delapan dari sembilan sektor yang tercatat di Bursa Efek Indonesia menguat, dipimpin penaikan sektor properti sebesar 6,98%. Adapun satu-satunya sektor yang melemah adalah sektor agribisnis sebanyak 0,01%.
Di kawasan Asia Tenggara, secara year to date bursa saham mayoritas masih melemah kecuali indeks Filipina yang menguat 0,86% dan IHSG yang naik 2,73%. Adapun indeks Thailand melemah 1,17%, Malaysia merosot 1,71%, dan Singapura turun 1,01%.
Satrio menambahkan, pada perdagangan besok indeks bakal melanjutkan penguatannya dan bergerak di kisaran 4.350-4.525, karena adanya confidence dari pemodal asing untuk mengalirkan dana ke bursa Indonesia. Menurutnya sektor perbankan danconsumer goods masih akan jadi incaran pemodal asing.
“Sementara kalau sektor properti masih merupakan ‘mainan’ pemodal lokal. Namun yang patut diperhatikan adalah pergerakan sektor tambang yang berpotensi memberatkan indeks, apalagi setelah pengetatan ekspor minerba diberlakukan,” tandasnya.
Sumber: Bisnis
